Sedikit Kata

Menulis blog tak punya batasan ajeg. Tak ada ketentuan berapa paragraf untuk menyampaikan suatu kisah. Blog, sederhananya adalah catatan pribadi. Kita bebas menulis dengan gaya dan daya sendiri.

Ada yang menulis panjang lebar tentang satu topik yang menjadi perbincangan media sosial. Ada juga yang singkat, bahkan lebih sedikit dari ketentuan Twitter, 140 karakter.

Nara blog yang biasa menulis dengan catatan kaki, tentu belum merasa “lepas” jika tak menautkan catatan kaki untuk berbagai referensi yang mendukung catatannya. Yang terbiasa menulis apa adanya, boleh jadi akan mandeg ketika diwajibkan menerakan referensi atas catatannya. Jadi, menulislah dengan lepas dan sesuai gaya masing-masing.

Blog adalah representasi dari penganggitnya. Kita tak pantas memaksakan ketentuan versi kita kepada blogger lain. Tetapi kita tetap harus menerima beragam respon pembaca.

Ketika satu tulisan selesai diunggah, menjadi hak pembaca untuk mengomentarinya. Jelek atau bagus, terima saja sebagai pelajaran berharga.

Kita menulis, kitalah yang menanggung risikonya.

Yuk, menulis lagi!

Advertisements

Ngeblog Kala Macet

Ngeblog bisa dilakukan di mana saja. Asal mau, saat menumpang mobil pun bisa. Ini kulakukan beberapa kali. Misalnya di bus, di kereta, bahkan saat nyaris membatu di ruang tunggu.

Foto yang kuunggah di atas adalah situasi macet di Jalan kalibata. Turun dari fly over arah makam pahlawan menuju Dewi Sartika, kendaraan terlihat macet. Cukup lama mobil yang kutumpangi tak bergerak di seberang Giant Mall Kalibata.

Para pengendara motor bersliweran. Sepertinya mereka lebih asyik nasibnya. Tetapi kadang-kadang mereka bikin kagok juga, sih. Misalnya saat menyalip tiba-tiba. Menyelinap secara paksa di antara mobil yang berhimpitan. Makin kacau jalanan, makin penat pikiran.

Hehe, tapi tak usah menjadi kesal karena situasi begitu. Karena itulah, daripada memerhatikan jalanan macet lebih baik menulis saja di blog.

Oh ya kawan. Apa yang kamu tulis hari ini?

Masihkah Ragu Menulis

Untuk yang entah keberapakalinya temanku minta diajarkan menulis. Ia kepingin sekali namanya terpampang dalam sebuah cover buku. Tetapi permasalahan yang paling besar, yang selama ini menghambatnya untuk mewujudkan cita-citanya itu adalah : Keraguan Menulis.

Bagi orang yang baru mulai menulis, keraguan yang biasanya mengancam pada fase awal itu disebabkan beberapa hal :

  • Bingung mau menulis apa, padahal tangan sudah bertengger di atas keyboard.
  • Kalau ini masalahnya, pakailah cara yang banyak diterapkan oleh para penulis : Tulislah apapun yang terlintas di kepalamu, bebaskan dulu beban tata bahasa, rilekslah!
  • Malu kalau tulisannya diketawain sama teman-teman.
    Ini juga masih hambatan psikis. Solusinya, camkan kalimat berikut : “Lebih baik menanggung malu karena telah menulis sesuatu yang kita niatkan positif, ketimbang kamu tidak pernah memulai tulisan sama sekali.”
  • Takut dikritik oleh siapapun yang lebih paham tentang tata bahasa dan ilmu menulis.
    Ingat gak waktu kamu bikin tugas paper di sekolah dulu? Pada kata pengantar, kamu pernah menulis “mohon kritik dan saran”. Itu adalah ending default dalam penulisan kata pengantar. Dan itu berarti, kamu siap di kritik. Nah kenapa tidak siap untuk kali ini, untuk sebuah momentum yang bisa mengubahmu menjadi penulis? Kalaupun kamu tetap tak mau dikritik, solusinya gampang : Jangan dipublikasikan! 😀
  • Tak punya laptop untuk menulis.
    Halah, sebenarnya ini alasan gak masuk akal. Lha, apa zaman dulu para penulis beken pada punya komputer? Lha, beberapa orang nekad meminjam mesin ketik ‘brother” yang keyboardnya bisa bikin pegal jari-jemari kita. Bahkan tidak sedikit pula yang memulai dengan tulisan tangan pada buku catatan hariannya.

Itulah sedikit alasan dasar yang membuat seseorang belum juga memulai tulisannya. Ketiganya hanya masalah mentalitas. Beberapa orang guru menulis menyebutnya dengan “Mental Block” yang bisa ditembus dengan kepercayaan diri.

Salah satu cara untuk menumbuhkan kepercayaan diri, mulailah dari tulisan-tulisan yang ringan, dengan kadar ilmiah yang cukup rendah dan bila perlu dengan kadar humor yang tinggi.

Cara lainnya adalah bergabunglah dengan komunitas yang gemar menulis. Kalau tak ada di tempatmu, buat aja sendiri bersama teman-teman sepergaulanmu. Komunitas ini nantinya akan mengeliminasi rasa ragu dan takut dikritik karena kita menuliskan sesuatu.

Latihlah keberanian menuliskan perasaan dan pemikiranmu melalui status atau kicauanmu di social media. Jangan beralasan tak mau punya twitter/facebook karena gak bisa nulis panjang-panjang. Cobalah tuliskan hal-hal sepele dengan 140 karakter saja. Jika itu kamu mulai, bisa jadi keraguan dan ketakutanmu dalam menulis bisa teratasi tanpa kau sadari kapan rasa takut itu hilang.

Menulis adalah kegiatan yang membutuhkan konsistensi. Kita bisa memulainya dengan menulis apapun yang sepele dan kita alami sehari-hari. Namun ada baiknya tulisan kita beranjak kepada hal-hal yang lebih serius dan bermanfaat buat banyak orang.

Tetapi bagi beberapa orang, menulis merupakan kegiatan yang berat karena beberapa hambatan yang diurai di atas. Kita harus yakin, sebesar apapun hambatan, pasti ada cara untuk mengantisipasinya.

Karena itu, cobalah merenungkan manfaat apa yang anda dapat jikalau anda menulis. Biasanya kita akan lebih bersemangat melakukan sesuatu apabila manfaatnya jelas. Dan hal fase pertama yang penting dalam dunia kepenulisan adalah dua hal : mulai dan konsisten!

Tulis saja, jangan ragu!

 

Banyak Media

Apa saja media bisa kita jadikan sebagai tempat menampung tulisan? Jangan terburu-buru untuk langsung menulis dalam sebentuk buku. Cobalah lakukan pada media menulis yang sesuai dan memungkinkan untuk mempublikasikan tulisan Anda.

• Diary

Dulu saat saya masih SD/SMP, menulis di buku diary menjadi trend. Banyak teman-teman yang memiliki buku diary, bahkan yang ada gemboknya. Memang saat itu harus digembok karena membaca diary orang lain tanpa izin merupakan sikap yang tidak sopan. Diary adalah catatan yang sangat pribadi dan rahasia. Dan pada diary itulah sebenarnya seseorang telah melatih kemampuan menulis sejak awal.

• Blog

Saat ini mungkin masih ada orang yang memelihara tradisi menulis diary. Tetapi boleh jadi lebih banyak orang yang menuliskan hal-hal yang sangat pribadi sekalipun, dalam media blog. Blog adalah situs personal yang berisi tulisan bebas yang ditulis dengan gaya yang berbeda-beda antar penulis satu dengan yang lainnya.

Blog juga merupakan media yang murah untuk melatih menulis. Banyak sekali penyedia layanan blogging yang memberikan ruang tak terbatas untuk semua orang di bumi ini.

• Koran Daerah

Bagi penulis yang ingin menulis di media massa, seperti Koran dan atau majalah, bisa memulainya dengan media lokal. Bagi orang yang berdomisili di Banten, mengirimkan tulisan pada Koran lokal lebih terbuka peluangnya ketimbang pada Koran nasional. Ini berkaitan dengan popularitas sang penulis. Biasanya Koran-koran lokal sangat akomodatif bagi penulis yang merupakan putra daerah. Menulis pada Koran lokal bisa dijadikan sebagai fase untuk mengirimkan tulisan pada media berskala nasional, dan bahkan internasional.

• Jurnal Komunitas

Kita juga bisa menulis pada jurnal yang diterbitkan oleh komunitas tertentu. Misalnya forum alumni. Setiap orang yang benar-benar alumni, punya peluang besar tulisannya dimuat pada jurnal internal komunitas.

Dalam ranah online, biasanya komunitas memberikan kesempatan pada anggotanya untuk menulis pada website ataupun blog komunitas. Seperti situs blogor.org yang sering diupdate oleh anggotanya sesuai rubrikasi yang ada.

• Kalau perlu, Tembok Kamar

Ini hanyalah motivasi untuk tetap menulis. Kita mungkin sering menonton film tentang narapidana yang tak pernah berhenti menguraikan perasaannya dalam bentuk tulisan di tembok.

 

2 Hambatan Lagi

Tak Ada Waktu

Ini lagi alasan yang sering diungkapkan oleh mereka yang tak juga memulai menulis. Memang waktu itu penting. Saya sendiri tak bisa menulis kala waktu saya harus diisi dengan bermain bersama anak-anak. Tak mungkin saya bisa menulis pada saat mereka masih melek. Karena itu, saya memutuskan untuk memiliki waktu khusus yang saya pakai untuk menulis. Kebetulan hanya tengah malam saja waktu yang memungkinkan untuk menulis.

Tetapi tidak setiap siang hari saya tidak menulis. Kadang-kadang sayapun menulis saat dalam perjalanan. Yang paling sering biasanya saat di Kereta. Seperti pada poin keempat di atas, saya sering menggunakan handphone untuk membuat draft blog, dan atau mencicil tulisan yang akan diperiksa dan dilanjutkan di rumah.

Tak Ada Mood

Saya setuju, menulis harus dilakukan dengan mood. Seperti ilustrasi awal tentang waktu khusus untuk menulis di atas. Sudah tentu saya tak punya mood menulis saat sedang asyik bermain bersama anak. Tetapi saya selalu berusaha agar pada kesempatan lain, mood menulis selalu terjaga. Karena mood itu adalah amat dipengaruhi oleh bagaimana kita mengelola perasaan.

Seorang teman bertanya, bagaimana agar mood menulis tetap terjaga. Ia sering ingin menulis apapun yang menarik baginya. Tetapi seringkali saat ingin menuliskannya, gagal karena tiba-tiba saja mood-nya hilang disebabkan oleh kehadiran orang yang tak ia sukai.

Melakukan apapun memang dapat dipengaruhi oleh mood. Tetapi mood itu kan hanya soal bagaimana kita mengatur perasaaan. Seorang penulis, tak selalu harus dalam keadaan senang, damai, tentram, untuk dapat menulis. Ada kalanya kekecewaan, frustasi, justru membuatnya dapat menulis dengan lancar.

Bagi saya, mood itu bukan seperti menunggu seseorang. Mood itu adalah melakukan apapun agar situasinya mendukung untuk melakukan sesuatu. Akan tetapi kadang kita mengalami situasi, dimana tak punya daya dan kuasa untuk menghindari ketidaksenangan suasana. Dalam kondisi seperti ini, hanya ada dua pilihan : Pertama adalah membiarkan suasana tidak kondusif tersebut berjalan, lalu mengatur perasaan agar tetap bisa bekerja. Kedua, melawan suasana tersebut, andai berhasil, kita menang. Andai kalah, kita akan beristirahat atau mencari hiburan lain (refreshing) agar bisa kembali bekerja.

Jadi, menulis atau tidak, bukan ditentukan oleh mood yg ada, tetapi ditentukan oleh bagaimana kita mengatur mood tersebut.

Banyak cara yang bisa dilakukan agar kita bisa menjaga mood menulis. Setiap orang pasti berbeda-beda cara. Belum tentu cara yang satu sesuai untuk orang lain. Misalnya saja saya sendiri. Pernah ketika saya sedang menulis tiba-tiba muncul masalah. Saya harus tetap menulis sambil membalas sms teman yang sedang mengadukan masalah dompetnya yang hilang dan minta tolong untuk menghubungi orang-orang di lokasi tempat kami bertandang. Karena sudah berencana harus menyelesaikan tulisan ini, tetap saya balas sms-nya dan menulis sms buat orang-orang terkait sambil tetap mencicil menyelesaikan tulisan.

Tetapi jika saya mengalami keadaan pilihan kedua, maka saya akan melakukan refreshing. Misalnya main gitar, main game, ngobrol bersama tetangga, dan sebagainya. Yang jelas, jika menulis sudah menjadi salah satu bagian dari kehidupan kita, apapun akan kita lakukan untuk menjaga agar mood kondusif.

Dari ketujuh hambatan yang telah saya uraikan di atas, apakah anda berhasil menembus hambatan dalam menulis? Atau apakah Anda masih enggan memulai menulis? Jika anda berhasil menembus batasan, selamat! Anda akan menjadi penulis yang hebat. Tetapi bagi Anda yang tetap saja malas untuk memulai, lebih baik lupakanlah impian menjadi penulis. Lakukan saja pekerjaan lain yang tak menyurutkan semangat Anda untuk melakukannya.

 

Hambatan Keempat

Tak Ada Alat bisa menjadi hambatan keempat dalam menulis.

Ada juga orang yang tak juga memulai keinginannya menulis hanya karena tak punya laptop. Seorang teman blogger yang masih sekolah di SMU, pernah menulis di sebuah wall grup yang saya ikuti. Ia ingin mengumpulkan uang dulu agar bisa membeli laptop, agar bisa mulai menulis novel.

Coba kita flashback, beberapa puluh tahun ke belakang. Bayangkan saat belum ada Personal Computer. Bayangkan saat belum diciptakannya mesin ketik. Bagaimana penulis masa itu menjaga konsistensinya dalam menulis? Ya, mereka menulis langsung pada beberapa lembar kertas. Bahkan lebih kuno lagi, ada yang menuliskan idenya pada daun lontar, batu, tembok, gua, dan lainnya. Bagi mereka yang membuatnya menulis bukanlah alat, tetapi panggilan hatinya untuk menulis. Maka apapun bisa dijadikan alat untuk menuangkan gagasannya dalam sebentuk tulisan.

Sebenarnya teknologi hanyalah alat yang menjadi perantara antara gagasan dengan tulisan. Intinya adalah brain, otak! Orang yang otaknya selalu bekerja, tak akan pernah merasa terhambat dengan tidak memiliki alat untuk menulis.

Pada zaman sekarang, bisa jadi kita tak memiliki laptop. Tapi karena keinginan menulis yang begitu kuat, bisa saja kita “ngendon” beberapa jam di tempat penyewaan computer ataupun warnet.

Bahkan teknologi mobile saat ini lebih memberikan peluang besar agar siapapun bisa menulis dalam situasi apapun. Banyak gadget ataupun handphone yang sudah bisa dipakai menulis note ataupun mengupdate blog.

Pernah suatu ketika saya menulis laporan Monthly Discussion Kompasiana, saat Menteri Pendidikan, M. Nuh, memberikan materi menjelang berbuka puasa tahun lalu. Membaca tulisan saya yang detil tentang apa yang disampaikan pak Menteri, seorang teman terkejut dengan dahsyatnya ingatan saya. Saat itu ia memang duduk di sebelah saya dan menyaksikan saya tak memegang kertas apalagi pulpen. Tetapi ia tak menyadari bahwa saya memegang handphone. Ia tidak “ngeh” kalau saya mencatat poin-poin penting yang disampaikan pak menteri dengan handphone tersebut.

alat

Begitulah, kita tak perlu terjebak dengan harus adanya alat yang lazim untuk dipakai menulis. Sebuah hape jelekpun bisa kita gunakan untuk menulis. Atau minimal mencatat poin-poin penting agar ingatan kita terpelihara dengan adanya catatan tersebut.