#internetBAIK Yogya Behind The Stories

Dari Jogja

Berbagi Kisah

Mendengar kata seminar atau pelatihan #internetBAIK, mungkin kita, anda dan kebanyak orang lainnya akan beranggapan itu adalah sebuah kegiatan pelatihan biasa tentang bagaimana tata cara menggunakan/mengakses internet. Sesuatu yang berbau teknis dan berkutat dengan jaringan komputer. Padahal tidak demikian.

Mba Mini, seorang peserta kegiatan #internetBAIK di kota Yogyakarta mengungkapkan kesannya yang diluar espektasi. Ternyata program yang digelar oleh operator merah putih ini begitu lengkap dan holistik, menarik dan sangat bermanfaat.

Begitulah memang tantangan meluncurkan program cyber wellness ini awalnya adalah bagaimana kami bisa mengemas ke dalam satu paket program yang bisa menyentuh seluruh aspek dan segmen sehingga pada akhirnya dapat diteruskan serta berdampak panjang.

Ibu Nia, GM Yayasan Kita dan Buah Hati (YKBH), besutan ibu Elly Risman sendiri mengakui bahwa paket program pelatihan #internetBAIK yang digelar ini adalah paket yang paling lengkap yang pernah ada, dengan menggabungkan materi digital parenting, digital literacy dan digital creative ke dalam satu wajan yang…

View original post 1,906 more words

Deparpolisasi Teman Ahok

Fenomena relawan Teman Ahok rupanya membuat anggota partai politik (parpol) ketakutan. Seperti yang dilansir Kompas: “Deparpolisasi ini bahaya dan PDI-P pasti akan melawan deparpolisasi,” kata Prasetio di Gedung DPRD DKI, Selasa (8/3/2016). (Selengkapnya baca: Tanggapi Teman Ahok, PDI-P Akan Lawan Deparpolisasi)

Geli dan mengenaskan membaca pernyataan reaktif tersebut. Anggota parpol yang nalarnya baik-baik saja, tidak mungkin menganggap gerakan Teman Ahok itu adalah upaya deparpolisasi. Lha, wong parpol itu keberadaannya dilindungi Undang-undang, koq sampai berpikir begitu.

Menjadi calon gubernur, walikota, dan bupati melalui jalur parpol maupun independen sama-sama diatur oleh Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2015.

Keengganan relawan Teman Ahok terhadap keterlibatan parpol mestinya dinalar sebagai kritik atas melunturnya kepercayaan masyarakat terhadap parpol. Hal itu boleh jadi disebabkan oleh banyak fakta tentang perilaku busuk orang parpol, baik di parlemen, di pemerintahan, di bandara, pub, maupun di kamar hotel. #eh

Bagaimana kepercayaan masyarakat tidak luntur jika orang parpol acapkali mengkhianati konstituennya sendiri. Saat kampanye menebar janji, saat berkuasa sibuk mencari upeti. Ah, sudahlah. Terlalu mudah mencari kasus-kasus yang dilakukan orang parpol di media maupun mesin pencari. Lupakan soal ini!

Sama naifnya jika kita menganggap relawan adalah orang-orang yang bekerja tanpa ada udang di balik bakwan. Tak semua relawan mengandalkan hati nurani. Mereka yang tahu kabar tak tersiar tentang relawan pendukung Jokowi dan Prabowo, paling cuma tersenyum ngenes kalau mendengar koar-koar bahwa relawan itu tulus dan tak menyembunyikan pamrih. Rupanya di antara para relawan itu ada juga yang mencari kesempatan. Ada yang “ngarep” jabatan, hadiah, atau pamrih lainnya. Kebetulan aku terkoneksi dengan beberapa orang relawan dari kedua kubu pada saat copras-capres 2014 kemarin, jadi ya tahu sendirilah bagaimana rupanya “oknum” relawan itu. Sengaja kutulis oknum agar selamat dari sikap reaktif anggota relawan yang mungkin tersinggung denganku, lalu menyebarkan isu devolunteerisasi. 😀

Adalah benar kalau aku anti parpol. Sampai kutulis di bio twitterku. Tetapi tidak benar jika aku percaya dengan deparpolisasi. Parpol itu bagian dari sistem demokrasi negara ini. Meniadakannya sama saja dengan melawan arus demokrasi. Tetapi tak mempercayainya, itu hak asasi.

Begitupun dengan relawan, adalah benar aku tak percaya sepenuhnya dengan mereka, tetapi tidak benar jika aku anti kerelawanan. Aku tak akan pernah bergabung dalam satu partai, itu benar. Sama benarnya dengan keenggananku bergabung dalam sekelompok relawan pendukung calon penguasa. Ketika aku ikut memilih, bukan karena aku sekelompok dengan mereka atau sehaluan dengan parpol. Aku memilih A atau B karena menggunakan hak dan preferensiku sendiri. Tak harus bergabung ke parpol dan atau relawan, untuk menggunakan hak pilih kita.

Kembali ke soal deparpolisasi, sebaiknya parpol mengukur sendiri tingkat kepercayaan masyarakat. Masyarakat makin hari makin kritis dan cermat. Jika yakin kalian jujur dan pantas dipercaya, kerja saja yang benar, penuhi janji-janji politik, lunasi hutang prolegnas, dan sebodoh-bodohnya anggota parpol, jangan nonton bokep, apa lagi tidur saat sidang berlangsung. Itu!

Lalu bagaimana dengan sikapku terhadap pemilihan gubernur DKI? Aku percaya Ahok adalah gubernur DKI Jakarta yang ideal untuk saat ini. Tetapi menyerahkan KTP-ku kepada Teman Ahok, nanti dulu. Aku masih mau melihat siapa lawan Ahok yang cukup kuat menggeser simpatiku.

Kalau cuma penghibur demokrasi, sih bakal aku lepehin. Misalnya Ahmad Dhani, aku nggak bakal memilihnya sebab aku nggak percaya sama dia. Simpel. Yusril? Hm, sempat terpukau pada awal kemunculan, namun waktu dekat dengan presiden, waktu jadi menteri, aku tak melihat gebrakan spesial darinya. Bagaimana dengan calon yang didapat oleh Majelis Tinggi Jakarta Bersyariah yang meluncurkan Konvensi Calon Gubernur? Ini menarik, tapi terlalu berat untuk mendapatkan calon gubernur yang sesuai dengan preferensi konvensi yang terkesan sektarian itu. Lagipula tujuannya terlalu rendah: menjegal Ahok, bukan tujuan yang visioner dan realistis untuk mengelola DKI Jakarta.

Persoalannya, sekadar mencari lawan Ahok adalah perkara sepele, namun mencari sosok gubernur yang lebih baik dari Ahok, itu cukup berat. Sebab satu-satunya kelemahan Ahok di mata para pembencinya cuma dua: 1. Tutur katanya kasar, 2. Non Muslim. Mendapatkan orang yang tutur katanya sopan dan Muslim, itu mudah. Banyak sekali Muslim yang bertuturkata sopan dan meneduhkan. Tetapi mencari sosok Gubernur yang nonkompromi terhadap korupsi, transparan, disiplin dan berani melawan komplotan politikus busuk? Cukup sulit mencari orang segila Ahok.

image

SMS BOS, Dipecat Bos

“Bae ko di akhir tahun begini pak dong ame abis dana bos na diam-diam, ais katong snde dapat apa-apa.” ~ SMS guru honorer yang lagi sial

Itulah isi SMS yang dipermasalahkan oleh pelapor. Isi SMS yang dimuat di media infontt.com.

Padahal menurut informasi yang disampaikan ibu Yati kepada sumber dari Safenet, kurang lebih berbunyi: “Bendahara dan kepala sekolah cair dana BOS bagi 2 untuk pakai natal. Sedangkan saya setengah mati kerja.”

Namun apapun isi SMS-nya, hal tersebut membuat pengirimnya, seorang guru honorer langsung dipecat oleh kepala sekolah dan bahkan dilaporkan ke polisi karena dituduh mencemarkan nama baik.

SMS tersebut dikirim seorang ibu guru kepada bendahara sekolah tempatnya mengajar. Ady Melijati Tameno, menanyakan soal dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang kabarnya sudah habis tetapi ia tidak mendapatkan rapelan honornya. Bahkan ia mengajar tanpa mendapatkan haknya sejak tahun 2012. Biasanya honor beliau sebesar Rp.250.000/bulan baru cair dirapel pertiga bulan. Ini sudah 3 tahun tak juga cair.

Bersyukurlah Anda yang mengajar di sekolah anak orang kaya dengan berbagai fasilitas dan gaji/honor yang tentunya lebih manusiawi ketimbang ibu Yati ini. Ia mengajar anak-anak kelas 1 dan 2 di sekolah Dasar Oefafi Kec.Kupang Timur, di mana umumnya muridnya berasal dari keluarga miskin. Untuk bisa melangsungkan kegiatan belajar mengajar saja, bu Yati harus mencarikan buku/kertas untuk murid-muridnya. Kadang 1 batang pensil harus dipatah tiga agar lebih banyak anak-anak yang bisa belajar menulis.

Membaca persoalan ini, yang kupikirkan bukan soal kemiskinan murid dan sikap persisten bu Yati yang tetap mengajar meskipun tak digaji selama 3 tahun. Soal ini sepertinya sudah menjadi kenyataan yang biasa dialami guru-guru di daerah-daerah yang tak terjangkau pembagian kekayaan NKRI yang melimpah ruah di darat, laut, dan udara. Hidup NKRI harga mati! #eh.


(Abdur bicara soal guru² di daerah)

Yang mengendap di kepalaku ada 2 hal. Pertama, soal dana BOS yang tak cair selama 3 tahun. Ini sudah tentu mengindikasikan masalah mulai dari pihak sekolah (kepala sekolah) hingga Dinas Pendidikan setempat atau boleh jadi di level atasnya lagi. Pihak manakah yang paling berperan sehingga dana BOS tak bisa dinikmati oleh murid dan guru? Apakah di sana ada korupsi sistemik yang menyebabkan dana BOS lenyap? Ini harus ditelusuri sampai tak ada fitnah tentang dana BOS yang dikorupsi.

Persoalan kedua adalah, dilaporkannya bu Yati ke polisi atas tuduhan pencemaran nama baik dengan jeratan pasal 27 ayat 3 UU ITE. Persoalannya bukan betapa cupunya pihak yang melaporkan bu Ady ke polisi. Itu sih sudah biasa terjadi di negeri ini, di mana orang-orang yang punya kuasa dan pengaruh tapi gede ambek, begitu mudah memenjarakan orang yang tak disukainya dengan pasal 27 ayat 3 UU ITE. Persoalannya adalah, di mana letak pencemaran nama baik yang dituduhkan ke bu Yati? Polisi yang normal sih, akan meminta bukti yang logis kepada pelapor. Lha, ini barbuknya tak jelas tapi diterima.

Jikalau isi SMS bu Yati yang mempertanyakan haknya dianggap pencemaran nama baik, berarti yang membacanya benar-benar sedang mengalami korsleting nalar. Jikalau pelapor, penerima laporan, penuntut, dan hakim menganggap bu Yati mencemarkan nama baik, ya boleh jadi mereka itu sedang mengalami pemadaman nalar serentak. Seperti pemadaman listrik yang dilakukan PLN yang dianggap biasa. Ya, nalarnya padam gimana mau bersikap manusiawi? Sial sekali nasib ibu Yati.

Jadi dua hal itu yang menurutku harus ditindaklanjuti penelusurannya. 1. Dugaan korupsi dana BOS. 2. Menalar pasal karet.

Badewey, saat aku curhat soal ini, di grup SAFENET masuk lagi beberapa laporan mereka yang diancam penjara dengan tuduhan pencemaran nama baik. Sementara itu proses revisi UU ITE masih berjalan di DPR RI. Semoga saja anggota dewan yang kece-kece itu memiliki nalar yang baik dan tak sedang padam sehingga berani menghapus pasal karet yang menjadi jimat para pelapor seperti jomblo frustasi yang melapor ke dukun pelet.

image

Ingin Rasanya #LebarandiPapua

“mereka menerima kehidupan bersama apa adanya, tanpa banyak pusing mengenai perbedaan SARA yang ada diantara mereka. Toh mereka semua sudah mengaku berasal dari Papua yang sama.” ~ @httsan

Catetan kecil httsan

Masjid di Distrik Arso Masjid di Distrik Arso

Semua berita tentang Papua akan selalu mengingatkan saya tentang saat berkunjung ke sana. Tahun 2007, pada bulan Agustus, saya dua kali menclok di tanah matahari terbit Indonesia. Semalaman perjalanan dari Jakarta, pagi turun di Sentani dan langsung ke Jayapura.

Banyak momen asik yang selalu saya ingat dengan jelas. Diawali dengan ini.

Percaya diri akan kemampuan “Jangkauan Luas” dari provider ponsel saya, maka saya tidak mengantisipasi apapun terkait hal ini. Turun di bandara Sentani, keluar bandara, sinyal ponsel nggak ada. Saya pikir, oh mungkin nanti juga ada, setelah dekat Jayapura. Saat mendekati Jayapura masih belum ada juga, saya tanya ke supir yang jemput: mas (dia pendatang dari Jawa) kenapa sinyal ponsel saya kok nggak ada ya? Dia balik tanya: pakai apa pak? Kata saya: yang ini mas, si “jangkauan luas”. Segera dia jawab: Ooo yang itu belum masuk Papua pak, kami juga baru liat di iklan TV…

View original post 745 more words

Menjelajah Nusantara Dengan Tulisan

ide yang menawan

Catetan kecil httsan

Mewarnai Indonesia Mewarnai Indonesia

Kegiatan Blogging untuk Nusantara bukanlah ide baru, saya mencoba menyemangati diri saya dan mencoba mengajak rekan-rekan blogger untuk, setidaknya, mencoba menjelajah Nusantara dengan tulisan. Apa yang dimaksud dengan Menjelajah Nusantara dengan Tulisan seperti judul tulisan ini?

Dalam dunia nyata, menjelajah Nusantara adalah dengan mendatangi lokasi-lokasi tujuan secara fisik. Saya yang orang Bogor secara fisik berada di Palembang, artinya saya sedang mengunjungi ibu kota Sumatera Selatan tersebut. Dalam dunia maya, saat saya menulis blog pribadi dan menceritakan tentang Palembang maka saya berada di-blog tersebut. Artinya adalah orang yang berkunjung ke-blog sayalah yang membaca tulisan saya tentang Palembang. Blog saya bisa berada di alamat pribadi (melalui Blogspot, WordPress, Medium, dan lain-lain), dapat pula berada di penyedia blog komunitas (misalnya Kompasiana, BlogDetik, dan lain-lain).

Para blogger tahu bahwa menulis dialamat pribadi dan dialamat komunitas tentu beda rasanya. Perumpamaannya adalah bagai berjualan di warung depan rumah atau toko di Pasar Anyar misalnya. Jika…

View original post 498 more words