Murid Ibarat Gelas


back to wordpress

Seorang pemuda mengunjungi Kyai Kampung. Ia menyampaikan niatnya mencari kedamaian bathin. Dalam perbincangan di teras beralas tikar pandan, pada malam ketika bulan purnama menerangi ladang, ketika semilir angin menciptakan tarian alang-alang, pemuda itu mengisahkan pengalamannya mencari kebenaran.

Ia pernah memasuki beberapa aliran keagamaan, dari yang dituding ahli bid’ah, hingga yang merasa paling nyunnah. Tapi dahaganya ketentraman spiritual tak didapatkan. Iapun pernah mengikuti beberapa pergerakan, dari yang fundamentalis hingga yang moderat. Iapun pernah gandrung membaca buku-buku beraroma sufistik hingga buku-buku silat macam Wiro Sableng Pendekar Sakti Kapak 212. Pengembaraannya sempat hanyut dalam buaian keyakinan tentang kesucian Ahlul Bayt, komunitas Habaaib, hingga kini ia mencoba menyerap kemurnian tasawuf dari beberapa kali pengajian sufi. Namun pada kembara terakhir ini, iapun merasa tak merasakan sakralitas spiritual.

Pada sang Kyai Kampung, ia mengutarakan kegelisahannya, “Saya sudah lelah hidup sebagai hamba, sebagai ummat, bahkan sebagai yang diikuti… Bagaimana menurut Kyai?”

Kyai Kampung menyulut sebatang rokok kretek…

View original post 413 more words

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s