Manfaat Menulis


a. Relaksasi

Ada saja orang yang menulis hanya untuk medilakukan relaksasi. Dengan menuliskan kepenatannya, ia bisa mendapatkan suasana rileks kembali. Bahkan bagi orang-orang seperti ini, menulis bisa menjadi cara untuk detoksifikasi, membuang energi negatif agar bisa hidup lebih sehat.

Penulis yang seperti ini biasanya akan mengurai dengan lancar segala macam uneg-unegnya, kegelisahan intelektualnya, dan keresahan terhadap lingkungannya. Setelah menulis, biasanya dirinya akan merasa lebih plog. Bebannya terasa berkurang dan bisa kembali fresh.

b. Popularitas

Bagi beberapa penulis, popularitas adalah segalanya. Mereka akan merasa sukses jika popularitasnya meluas. Yang seperti ini biasanya akan stress jika tidak popular. Karena itu, segala cara dilakukannya untuk mendapatkan arti kesuksesan menurut mindsetnya sendiri : terkenal.

Bahkan ada juga yang mengejar popularitas dengan modal sendiri. Tak masalah jika bukunya tidak menguntungkan baginya, yang penting ia sudah merasa terkenal. Ini pernah terjadi pada teman saya yang menerbitkan buku sendiri, promosi sendiri, hingga mengeluarkan biaya yang lebih besar ketimbang royalti yang ia dapatkan. Baginya tak masalah jika tak untung secara financial, yang penting ia puas karena sudah merasa menjadi penulis terkenal.

c. Finansial

Ini adalah manfaat yang umum dan lazim bagi para penulis. Royalti adalah tujuan dari kegiatan menulisnya. Bahkan ada juga penulis yang demi mendapatkan keuntungan yang lebih besar, mereka menjual langsung buku karangannya sendiri.

Memang benar sih. Jika hanya menjadi penulis, biasanya akan mendapatkan royalti sebesar 10%. Itupun baru dicairkan setelah 6 bulan berjalan setelah dipotong pajak 15%. Karena itu ada saja penulis yang tak ingin bergantung kepada penerbit. Maka merekapun mencoba menerbitkan sendiri bukunya.

Self Publishing inilah yang kini sedang trend di kalangan penulis yang memulai geliat kepenulisannya melalui jalur online writing.

Dengan self publishing, penulis akan mendapatkan penghasilan yang lebih besar dari pada sekedar royalty, jika menerbitkannya melalui penerbit lain. Namun tentu setiap pilihan ada resikonya sendiri. Menerbitkan buku sendiri, atau self publishing tentu harus diikuti dengan self marketing. Penulis harus menyediakan waktu ekstra untuk medilakukan promosi sendiri, menjual sendiri, dan membiayai semua kegiatan marketing dari kocek pribadinya. Ini terkesan sangat merepotkan, tetapi justru hasilnya secara financial memang lebih besar ketimbang hanya mengandalkan royalti dari penerbit.

d. Idealisme

Ada juga penulis yang menulis buku hanya demi sebuah idealisme. Penulis seperti ini tak peduli apakah ia akan mendapatkan keuntungan financial dari penjualan bukunya. Baginya yang penting adalah menyampaikan visi dan misi yang ia anggap benar dan perlu disebarkan.

Penulis idealis biasanya tak akan pernah mau menulis hal-hal yang tak ia kuasai. Ia tak tertarik untuk menulis topic di luar mindsetnya sendiri. Namun bukan berarti penulis seperti ini tak suka membaca tulisan di luar topic yang menjadi concernnya.

e. Hobi

Menulis berlandaskan hobi atau kegemaran, biasanya terjadi di kalangan blogger. Mereka menulis apapun, mulai dari hal-hal serius hingga yang sepele sekalipun. Bagi mereka, menulis itu sudah menjadi bagian dari addict. Bahkan mereka akan merasa gelisah jika belum menulis sesuatu di computer maupun di blognya. Mereka juga tak pernah pusing jika tulisannya tidak dihargai dalam bentuk rupiah. Kepuasan batinlah yang biasanya mereka cari.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s