Hambatan Keempat


Tak Ada Alat bisa menjadi hambatan keempat dalam menulis.

Ada juga orang yang tak juga memulai keinginannya menulis hanya karena tak punya laptop. Seorang teman blogger yang masih sekolah di SMU, pernah menulis di sebuah wall grup yang saya ikuti. Ia ingin mengumpulkan uang dulu agar bisa membeli laptop, agar bisa mulai menulis novel.

Coba kita flashback, beberapa puluh tahun ke belakang. Bayangkan saat belum ada Personal Computer. Bayangkan saat belum diciptakannya mesin ketik. Bagaimana penulis masa itu menjaga konsistensinya dalam menulis? Ya, mereka menulis langsung pada beberapa lembar kertas. Bahkan lebih kuno lagi, ada yang menuliskan idenya pada daun lontar, batu, tembok, gua, dan lainnya. Bagi mereka yang membuatnya menulis bukanlah alat, tetapi panggilan hatinya untuk menulis. Maka apapun bisa dijadikan alat untuk menuangkan gagasannya dalam sebentuk tulisan.

Sebenarnya teknologi hanyalah alat yang menjadi perantara antara gagasan dengan tulisan. Intinya adalah brain, otak! Orang yang otaknya selalu bekerja, tak akan pernah merasa terhambat dengan tidak memiliki alat untuk menulis.

Pada zaman sekarang, bisa jadi kita tak memiliki laptop. Tapi karena keinginan menulis yang begitu kuat, bisa saja kita “ngendon” beberapa jam di tempat penyewaan computer ataupun warnet.

Bahkan teknologi mobile saat ini lebih memberikan peluang besar agar siapapun bisa menulis dalam situasi apapun. Banyak gadget ataupun handphone yang sudah bisa dipakai menulis note ataupun mengupdate blog.

Pernah suatu ketika saya menulis laporan Monthly Discussion Kompasiana, saat Menteri Pendidikan, M. Nuh, memberikan materi menjelang berbuka puasa tahun lalu. Membaca tulisan saya yang detil tentang apa yang disampaikan pak Menteri, seorang teman terkejut dengan dahsyatnya ingatan saya. Saat itu ia memang duduk di sebelah saya dan menyaksikan saya tak memegang kertas apalagi pulpen. Tetapi ia tak menyadari bahwa saya memegang handphone. Ia tidak “ngeh” kalau saya mencatat poin-poin penting yang disampaikan pak menteri dengan handphone tersebut.

alat

Begitulah, kita tak perlu terjebak dengan harus adanya alat yang lazim untuk dipakai menulis. Sebuah hape jelekpun bisa kita gunakan untuk menulis. Atau minimal mencatat poin-poin penting agar ingatan kita terpelihara dengan adanya catatan tersebut.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s